Begitu banyak pikiran di benakku.
Rasanya pengen nulis-nulis, keinginan itu memanggil-manggil. Tapi sayangnya akhir2 ini hidupku sangat jauh dari komputer. Setiap kali ada yang terbersit, pasti pas moment yang gak ada kertas, atau jauh2 dari PC.
Yah namanya nulis kan nggak bisa dipaksa. Lagian blog ini kan emang asal muasalnya buat curhat dan untuk melampiaskan inspirasi2. (apa coba?)
Seminggu terakhir ini ada 2 masalah yang aku bilang wagu.
Kadang kita selalu merasa diri kita yang paling benar sendiri, walau di kaca mata orang lain belum tentu begitu.
Cuman untuk 2 masalah terakhir ini aku merasa aku benar .. (HAHA .. emang bener deh TEORI AKU MAU MENANG SENDIRI itu).
Kadang susah ya menahan marah. Marah itu kadang enaaak sekali pas ngelampiaskannya (ah, susah banget nulis'e). But, .. aku ini udah tua, udah ibu-ibu (ceilehh). Benernya bukan masalah tua atau nggak sih, tapi bagaimana aku bisa melihat dari "luar", reaksiku terhadap rasa marah itu. Malah sebenernya urusan2 ini sama orang-orang yang lebih tua umurnya dariku. Tapi aku merasa pikiran dan perasaan mereka pada saat itu kalah dari sisi kedewasaanku.
Saat rasa marah atau kecewa itu muncul, aku bertanya :
"KAMU MAU APA SEKARANG?"
Kata-kata kejam apa yang mau kamu pake?
Is it mean enough to hurt his/her feeling?
ATAU
Apa sebaiknya kamu menjaga ketentraman?
Nggak usah ngomong apa-apa.
Cukup "ya" saja?
Ah, kamu chicken ah.
Those are the feeling I felt.
Dan for the last 2 times I felt anxiously want to get angry, I chose to back off.
I said to myself : CLOSE YOUR EYES, YOUR EARS, YOUR MOUTH.
Don't start, don't start.
Magic spell? No, I still felt the anger.
But I did it.
I still feel the pain from the anger. But I don't want to build up more anger inside of me to satisfy other people's feeling. Why? MY SON. To me, his middle name is LOVE.
I'm not perfect to everybody else, but him. Makhluk kecil ini masih halus perasaannya.
Aku harus berusaha menjadi orang yang bisa mengendalikan emosi karena dia memandang dunia ini dari sikapku.
Kids learn how to handle emotion from parents.
Mama said to me, she admires how I see things in life in depth. At my age right now, she was not like me. The thing I always tell her is that, I learn it from her.
It's a cycle. Parent-kid. Husband-wife. Friends. One influences the other.
Anton changes now. He handles his emotion more maturely than he used to.
He soothes my feeling when I'm upset lately.
Jadinya aku juga lebih tenang dan nggak tambah marah.
Ah, emang enak kalo ada orang sabar. Ngapain sih ya marah2? Capek gitu lho.
I hope we will always do that, love.
No comments:
Post a Comment